Sabtu, 20 November 2010

Soundtrack of Our Love #2

http://www.youtube.com/watch?v=BhT2HhEllpw

Pyramid
(Charice feat. Iyaz)

Intro
Shorty’s love is like a pyramid
We stand together till the very end
There’ll never be another love for sure
Sera and Jordan here we go

Em7                        Cadd9
Stones, heavy like love you’ve shown
                       G
Solid as the ground we’ve known
                     D
And I just wanna carry on
                          Em7
We took it from the bottom up
                     Cadd9
And even in desert storm
                   G
Sturdy as a rock we hold
                     D
Wishing every moment froze
                            Em7
Now I just wanna let you know
                       Cadd9
Earthquakes can’t shake us
                      G
Cyclones can’t break us
                      D
Hurricanes can’t take away our love

Chorus
Em7                        Cadd9
Pyramid, we built this on a solid rock
                          G
It feels just like it’s heaven’s touch
                D             Em7
Together at the top, like a pyramid
                   Cadd9
And even when the wind is blowing
                       G
We’ll never fall just keep on going
                 D                  Em7
Forever we will stay, like a pyramid

                                 Cadd9
Like a pyramid like a pyramid yea
                                 G
Like a pyramid like a pyramid yea
                                 D
Like a pyramid like a pyramid hey

Cold, never ever when you’re close
We will never let it fold
A story that was never told
Something like a mystery
And every step we took we’ve grown
Look how fast our time has flown
A journey to a place unknown
They’re going down in history
Earthquakes can’t shake us
Cyclones can’t break us
Hurricanes can’t take away our love

(Chorus)
(Bridge)
Like a pyramid girl I’m a me show you
That I love you so much
That we gona get through
Even when there’s storms, I will never go
Im a be the one to keep you save
Four walls of love, packing more than enough
Holding on to one another be the cover when it’s rough
Mother nature or disaster won’t stop a happy ever after

(Chorus)
Pyramid, keep it going (like a pyramid, like a pyramid)
Oh oh ooooh (like a pyramid, like a pyramid)


PS: This track is Soundtrack of Our love... Hope u enjoy it. Love you deep...!!

Donout ohh donout....

Donat adalah salah satu cemilan favoritku. Biasanya sih kalau makan nggak cukup cuma satu. Kalau beli lebih dari satu kok kayaknya mahal banget. Hehehe... Jadi yah biar bisa makan sampai puas bikin sendiri ajahh. Selain gampang, bahan-bahannya murah, rasanya enak dan higienis. Sangat tepat ditemani dengan secangkir kopi, sangat matcing bila dikondisikan dengan cuaca hujan di akhir tahun ini. Hmm.. so romantic. Mumpung punya talent buat masak dan kondisi mendukung,  mari kita masak sendiri makanan kita. Fighting!!

Biar teman-teman juga bisa coba, berikut resepnya. Selamat mencoba donat bikinan sendiri!



Bahan:
300 g tepung terigu
1/2 bks (5,5 g) ragi instan
3 kuning telur ayam, kocok
2 sdm margarin
150 ml susu cair hangat
minyak untuk menggoreng
Olesan:
100 g cokelat masak pekat, lelehkan
100 g meisjes/cokelat beras
Cara membuat:
-Campur tepung terigu dan ragi, aduk rata.
-Tambahkan telur dan maragarin sambil uleni hingga rata.
-Tuangkan susu sedikit demi sedikit sambil uleni hingga kalis benar. Bulatkan adonan, taruh di tempat hangat selama 45 menit hingga mengembang dua kali semula.
-Kempiskan adonan, bagi menjadi 12 bagian. Bulatkan masing-masing lalu – bentuk dengan tangan hingga berlubang tengahnya.
- Taruh di loyang bersemir minyak dan biarkan selama 10 menit hingga mengembang.
-Panaskan minyak banyak di atas api kecil. Goreng donat hingga kecokelatan dan matang. Angkat, tiriskan dan dinginkan.
-Olesi permukaan tiap donat dengan cokelat leleh. Taburi dengan cokelat dan diamkan hingga mengeras. Sajikan.

Rabu, 22 September 2010

Ulos Batak.. Uli ma ho...

Baru saja aku lelah mencari, mencari dan terus mencari sesuatu yang hilang. Lalu pikiranku singgah disini. Di penat yang merata dan membius pikiranku sekian lama. Kembali ke asalku, Batak. Apa yang akan kulakukan dengan ke Batakanku, inilah dia. Pointer ku telah menjelajah dan sampai ke suatu titik yang akan dituju sebahagian besar manusia di muka bumi ini terlebih oleh bangsa-bangsa Batak. Pernikahan.
Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh pada pengantin ini? Aku iseng-iseng mencari gambar pengantin batak dan kutemukan gambar seperti ini di semua hasil pencarianku.
Ironis, pernikahan Batak tapi tak seluruhnya memakai ornamen khas Batak, satu hal lagi bahkan busananya sebagai icon pernikahannya tidak memakai ulos sebagai kebanggannya. Hal ini ditemukan di hampir semua pernikahan Batak.

Iseng aku membuka artikel dan berikut kutipannya:

Merdi Sihombing: Banyak Wanita Batak Memilih Songket Palembang daripada Ulos Batak

[jarar siahaan; batak news; menjajah budaya sendiri]

Ia salah satu desainer top Indonesia. Ia berteriak lantang: justru orang Batak “memuja” songket Palembang dan “melupakan” ulos. Kini ia tengah mengerjakan proyek pengembangan ulos yang didukung negara asing, Austria. Ironis.
“Wanita Batak sangat memuja, bangga, berlomba-lomba untuk memakai kain songket Palembang pada setiap momen yang berkesan buat hidupnya,” kata Merdi Sihombing pada imel yang dia kirim ke blog Batak News beberapa hari lalu. “Wanita Batak banyak mengoleksi kain songket Palembang yang ditawarkan dengan harga yang sangat fantastis sebagai prestise bahwa hidup mereka sangat berlebihan.”
Merdi adalah pria Batak yang pernah kuliah di Institut Kesenian Jakarta [IKJ], “tapi belum tamat.” Pada tahun 2002 ia sudah menjadi perancang busana langganan sejumlah selebritis, antara lain Feby Febiola, tulis harian Kompas — yang menyebut rancangan Merdi sebagai “keindahan dalam kesederhanaan”. Aku juga pernah melihat namanya tercantum sebagai desainer model cantik di majalah seksi Popular beberapa tahun silam.
Lantas kenapa [sebagian] perempuan Batak lebih memilih songket Palembang? Merdi menjawab, karena orang-orang berpengaruh di kalangan Batak, seperti seniman, rohaniawan, pengusaha, dan pejabat pemerintah tidak peduli melestarikan dan mengembangkan ulos. Ia menilai, hanya pedagang dan pengrajin uloslah yang peduli pada kain dengan tiga warna khas itu — hitam, merah, dan putih.
Kualitas ulos pun secara umum kurang memadai. Kembali lagi, ini terjadi karena kurangnya perhatian dari orang-orang berpengaruh tadi. Masih banyak hal yang perlu dibenarkan, kata Merdi. Misalnya kualitas benang, komposisi dan warna, termasuk promosi.
Danau Toba pada tahun 2010 telah dicanangkan pemerintah sebagai tujuan wisata yang akan menjadi sumber pendapatan beberapa kabupaten. Tapi hingga kini upaya-upaya mendukung program tersebut, termasuk salah satunya pengembangan ulos, dinilai nyaris tidak terdengar.
Kata Merdi, para politikus Batak ramai-ramai ingin mewujudkan Propinsi Tapanuli dengan semboyan dan harapan yang muluk-muluk, tapi mereka tidak memikirkan masyarakat bawah yang berpenghasilan dari membuat ulos sebagai pelengkap tujuan wisata.
Kalau kita tidak ingin ulos semakin hilang dilindas pengaruh budaya lain, maka semua pihak harus berusaha mengubah pemikiran yang kerap muncul di kalangan wanita Batak bahwa, “Ulos tidak berharga, kuno, kasar, tidak indah, it’s not cool.”
Secara teknis aku buta tentang penerapan motif ulos pada busana modern. Tapi kupikir seorang Merdi sangat menguasainya, dan itulah yang dia pikirkan dan kerjakan selama ini. Mungkin pendapat Dewi Motik pada tahun 1980 berikut ini masih relevan untuk disimak dan dijadikan pemacu hasrat kita sebagai pencinta ulos:
“Kesukaran saya, sebagian besar warna ulos itu gelap. Juga lebar kainnya yang cuma 60 cm, sehingga tidak mudah dikembangkan untuk model-model rok yang lebih bebas.”
Merdi Sihombing adalah desainer kebanggaan Indonesia. Tahun ini ia ditunjuk pemerintah sebagai salah satu dari 12 fesyen desainer untuk pengembangan kain tenun tradisional. Ia pun sering berpameran bersama perancang busana papan atas sekelas Oscar Lawalata, Ghea Panggabean, dan Samuel Wattimena. Tahun lalu ia mengangkat kain tradisional suku Badui dalam sebuah pameran setelah mengamati suku tersebut selama tiga tahun.
Ia juga bangga menjadi orang Batak. Suratnya padaku “marpasir-pasir” alias berbahasa Indonesia yang dicampur bahasa Batak.
Tanggal 5 besok ia berada di Medan. Tanggal 8 di Pulau Samosir selama tiga hari untuk pemotretan keperluan buku ulos Batak, Natural Thing. Tanggal 11 menyeberang ke Muara, kecamatan kecil nan indah di tepi Danau Toba. Tanggal 13 baru akan kembali ke Jakarta.
Selamat berkarya, Lae Merdi. Hanya dengan tulisan pendek ini aku bisa membantu cita-citamu mengangkat derajat ulos kita. [www.jararsiahaan.com]
CATATAN BATAK NEWS: Seusai menulis artikel ini aku teringat pada sejumlah kawan dan familiku, orang-orang Batak di Balige, yang dengan alasan ajaran agamanya rela membakar ulos. Duh, menyedihkan: mengaku orang Batak tapi tidak mau memakai ulos.

Foto di atas adalah gambar Merdi [kanan] bersama Nai Marudut boru Situmorang — seorang pengrajin ulos dengan alat-tenun tangan di Desa Lumban Suhisuhi, Kabupaten Samosir. Ulos buatan Nai Marudut pernah diberikan kepada Paus Yohanes Paulus II ketika berkunjung ke Indonesia pada 1990.
Sementara foto di sebelah ini adalah gambar pengantin Charly Silaban dan istrinya, Regina, yang dengan bangga mengenakan ulos Batak — walaupun pihak orangtua sempat menganjurkan memakai songket Palembang. Mereka melangsungkan pernikahan di Doloksanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut, sebulan lalu.
[www.blogberita.com]


Begitulah kutipannya, tragis, tapi lebih tragis bila kita tidak sadar. Dan marilah kita kembali ke asal menggunakan ULOS BATAK. Horas!!

Jumat, 17 September 2010

Letter To Juliet

Terinsipirasi dari film yang aku tonton kemarin saat keadaanku tidak baik dengan flu yang tiba-tiba menyerang, Letter Of Juliet memberikan inspirasi kepada manusia yang masih percaya cinta sejati. Mungkin terlalu berlebihan, tapi pesan-pesannya memberikan kekuatan dan rasa percaya diri.



Ada sebuah kota di Italia (negara yang begitu aku kagumi setelah Indonesia)_ Kota itu Verona, kota penuh cinta dan tempat pengharapan untuk setiap perempuan yang jatuh cinta. Semua perempuan di seluruh penjuru dunia datang dan menuliskan kisah - kisah mereka dan meletakkan itu semua di dinding batu dan berharap Juliet (sang pelindung perempuan yang jatuh cinta) membalasnya dan memberikan jalan keluar. Menarik, tentu saja karena saat itu juga aku ingin segera berada di kota itu. Yahhh mungkin suatu saat...


Satu hal yang aku pahami bahwa kita tak perlu menunggu lama untuk cinta dan kesalahan-kesalahan yang terjadi saat menunggu mungkin akan memberikan kita kedewasaan. Seperti kata-kata yang aku kutip dari film itu. "Apa artinya kata 'bagaimana' dan 'jika' bila dipisahkan? Bila 'Bagaimana jika' disatukan dia akan lebih kuat" Jadi bagaimana jika aku mengejar cintaku? Sebaiknya kita coba dan jangan hanya menyimpannya dalam pikiran dan hati. Aku rasa perempuan-perempuan dari seluruh dunia akan mendapatkan balasan yang membuat mereka tidak perlu merasa bersedih lagi.



Verona... semoga bisa kesana suatu saat nanti!!! *hope*